1 Desember 2010. Hari pertama di bulan Desember. Udah bulan Desember ya? Banyak banget artinya. Berarti bentar lagi gue mesti ngadepin US. Bentar lagi mau ganti tahun. Bentar lagi bakal ada yang ulang tahun...
Tiba-tiba gue inget kenangan lampau di bulan Desember. Sekelebat bayangan hitam putih berputar di kepala gue seumpama film bisu jaman dulu. Gue tercenung. Menyadari bahwa begitu banyak hal yang udah gue lalui. Begitu banyak hal yang udah terjadi. Dan begitu banyak hal yang berubah drastis.
Gue masih terpukau dengan indahnya Desember versi lama. Ya, versi lama. Gue kaget banget bahwa ternyata gue bisa mengenang semua dengan jelas dan dengan penuh hikmat. Gue tersenyum. Bangga bahwa hal-hal yang begitu amazing pernah terjadi dalam hidup gue. Selama ini gue selalu menghindari konflik batin dalam diri gue yang senantiasa berkecamuk di relung hati. Selama ini gue larang keras hati gue untuk mengenal kata menyesal. Ya, penyesalan udah gue hapus dari kamus gue. Penyesalan tidak mendapat tempat dalam hidup gue. Gue butakan mata hati agar ia tak kenal sesal. Gue tulikan telinga hati agar ia bebal. Gue rakit pertahanan diri. Gue tenggelamkan rasa benci. Gue punahkan memori hati.
Tapi hari ini, 1 Desember 2010, gue kenang semuanya. Gue kenang seorang diri semua memori yang lama gue kunci. Gue persilakan gulungan rol film menampilkan isinya. Gue nikmati. Gue rasain bahagia, pedih, luka, gembira dan semua tawa yang pernah gue lalui. Ya, kenangan Desember memang memenuhi otak dan hati gue. Seakan meronta untuk dimuntahkan. Seakan bosan dengan sikap gue yang kejam karena mengurung mereka dalam peti terkunci. Hari ini, mereka terbang bebas. Membiarkan gue terpesona dan terpana dengan fatamorgana yang begitu indah dan menyakitkan. Yang selama ini gue takut melihatnya atau bahkan hanya mengintip.
Hari ini gue udah mengenang semua. I mean, ALL of the memories…
Dan gue tahu gue harus terus melesat. Saatnya gue menjadi lebih dewasa dengan segala sesuatu yang udah gue jalanin dan gue alami selama ini. Berkali-kali gue ucapkan syukur karena semua ini telah mengajarkan gue bagaimana harus mengambil langkah. Gue harus kuat.
Dear Desember…
Mungkinkah lo bakal memenuhi hati dan otak gue lagi? Akankah lo bakal gue kenang nanti dengan fatamorgana yang terganti? Bisakah lo hilangkan kesedihan saat ini? Maukah lo ganti setiap luapan emosi? Gue disini, berdiri bimbang. Gue menanti sesuatu yang mungkin terjadi.
Dear Desember...
Haruskah gue lakukan ’ini’?




0 komentar:
Posting Komentar