21 Oktober 2010, sebelum berangkat sekolah saya dan teman-teman kosan sempat melihat berita yang menampilkan demonstrasi di depan istana negara. Saya dan teman-teman sebagai para pelajar yang peduli terhadap perkembangan bangsa Indonesia berkomentar tentang kejadian ini.
Well, berhubung kami baru saja memelajari tentang masa pemerintahan orde baru (materi UTS), kami, terutama saya, baru tahu dan memahami tentang ”permainan” politik beserta keberhasilan dan ketidak berhasilan dari setiap generasi pemerintah dari masa orde baru sampai saat ini.
Masa orde baru, seperti yang kita tahu, dipimpin oleh pak Soeharto yang menjabat sebagai orang nomor 1 di Indonesia selama kurang lebih 30 tahun. Tentu saja hal ini membawa dampak baik dan buruk bagi bangsa Indonesia. Sama seperti koin, baik dan buruk adalah dua sisi yang tak terpisahkan.
Pada masa orde baru, Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam hal pembangunan. Pak Soeharto dengan tangkasnya meminjam uang luar negeri untuk membangun bangsa Indonesia dan menciptakan rencana-rencana pembangunan jangka panjang dan jangka pendek. Hasilnya, tak diragukan lagi. Pembangunan gedung dimana-mana dan secara kasat mata pak Soeharto telah berhasil membangun Indonesia dan memberi lapangan kerja pada masyarakat Indonesia. Masalah datang karena ternyata pembangunan itu dianggap semu karena beliau membangun Indonesia dengan meminjam uang dari luar negeri. Hutang Indonesia yang terlalu banyak menyebabkan Indonesia tidak mampu membayar hutang pada saat yang ditentukan. Dan timbulnya krisis politik karena maraknya KKN pada waktu itu (meski sampai sekarang). Adanya krisis ekonomi di Indonesia menyebabkan banyaknya perusahaan yang gulung tikar sehingga menambah jumlah pengangguran dan meningkatkan kriminalitas di kalangan masyarakat. Dan saat itu, berakhirlah masa pemerintahan orde baru.
Digantilah masa reformasi. Pak B.J Habibie dengan gagahnya menindak lanjuti praktek KKN dan menekan tingkat krisis ekonomi. Pada masa inilah masyarakat Indonesia diperbolehkan menyampaikan pendapat. Pak Habibie dengan terbuka menerima aspirasi dari siapa saja di Indonesia.
Pemerintahan Indonesia terus berganti. Sampailah pemerintahan dipimpin oleh Pak SBY hingga saat ini tepat 1 tahun beliau memimpin bangsa Indonesia. Lho? Kok malah pada demo? Ini dia pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya dan teman-teman saya. Ada salah satu poster yang dibawa oleh para demonstran yang bertuliskan “SBY GAGAL! TURUNKAN SEKARANG JUGA!” dengan huruf yang super besar. Saya sempat merenung, jika karena masa pemerintahan Pak SBY, Indonesia mengalami banyak musibah, seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor dan lain-lain tentu saja menurut saya kita tidak bisa menyalahi program pemerintahan pak SBY. Lha wong itu kehendak yang Maha Kuasa to? Sekarang, bagaimana kesadaran kita sebagai masyarakat Indonesia untuk membuang sampah dan menjaga kebersihan untuk menghindari terjadinya banjir.
Kemudian, dalam masa pemerintahan pak SBY banyak masyarakat miskin. Lho? Bukannya dari dulu pasti ada to masyarakat miskin? Dari masa pemerintahan orde lama, setahu saya yang namanya orang miskin pasti ada. Kok bisa-bisanya nyalahin pak SBY? Kalau kegagalan pak SBY diukur dari hal-hal diatas, tentu saja ini tidak masuk akal. Coba deh kita lihat, pada masa pemerintahan pak SBY, masyarakat golongan menengah udah bisa beli mobil dan masyarakat golongan menengah kebawah kemungkinan gak punya motor dirumah tuh kecil banget. Nah, tentu saja ini merupakan salah satu keberhasilan pak SBY yang tidak bisa kita lewatkan begitu saja kan?
Namun, sama seperti koin tadi, bahwa baik maupun buruk itu selalu tidak dapat dipisahkan. Yang saya heran, kok pak SBY kayak tenang-tenang saja waktu ada isu mau dibuat gedung DPR yang super mewah?
Tapi diluar dari itu, saya pikir kita gak pantes untuk menjelek-jelekkan orang nomor 1 di negara kita ini. Tentu saja kita boleh menyampaikan pendapat, tapi tetap memiliki etika. Gak mesti menjelek-jelekkan, mencari kesalahan, apalagi sampai berujung pada tindakan anarkis dan kriminal.
Setelah selesai melihat berita itu, saya sempat berpikir, bagaimana jika orang yang memiliki ide untuk menuliskan kata-kata “SBY GAGAL! TURUNKAN SEKARANG JUGA!” itu berada diposisi pak SBY. Lalu apa yang menjadi tolak ukur baginya untuk melihat kegagalan dan keberhasilan masa pemerintahannya?



0 komentar:
Posting Komentar